Menelisik kelemahan pendidikan Indonesia.
Sumber Gambar : https://sangnanang.com/ |
Menelisik kelemahan pendidikan Indonesia. Pendidikan adalah unsur penting yang menentukan kemajuan suatu bangsa. Maju atau mundurnya suatu bangsa tidak lepas dari bagaimana kualitas pendidikan di negara tersebut. Melalui pendidikan berkualitas akan lahir insan cendikia dan berprestasi. Generasi cerdas inilah yang akan menjadi generasi perubahan. Pendidikan di negeri kita tidak pernah lepas dari segala macam carut-marut. Beberapa minggu yang lalu kita mendengar keluhan pelajar menengah atas di Indonesia tentang sulitnya soal ujian nasional. Fenomena masalah ujian nasional ini seolah menjadi rutinitas yang tak pernah selesai. Selain itu kurangnya fasilitas dan permasalahan honorer seolah menambah deretan panjang bobroknya pendidikan negeri kita. Kita selalu berkutat dengan kurikulum dan kurikulum. Adminitrasi cantik tapi hasil nol. Rencana matang tapi eksekusi gagal. Sehingga wajar jika melekat istilah, ganti menteri, ganti kurikulum.
Pemerintah telah berupaya menyelesaikan masalah ini, namun solusi yang kurang tepat menyebabkan masalah ini sulit diatasi. UUD 1945 Pasal 31 Ayat 2, 3, dan Ayat 4 dengan jelas menyatakan bahwa setiap warga negara berhak mendapat pendidikan, pemerintah mewajibkan setiap warga negara untuk mengikuti pendidikan dasar dan wajib membiayainya serta pemerintah minimal mengalokasikan dana pendidikan sebesar 20 persen dari APBN dan APBD. Besarnya angka nominal untuk pendidikan seharusnya mampu menyelesaikan masalah pendidikan kita.
Dalam mengatasi problem ini kita harus memiliki konsep jangka panjang untuk pendidikan dan tidak hanya menyalahkan sepihak kepada pemerintah. Tetapi sebagai pemangku kekuasaan pemerintah memegang peranan penting. Bagaimana konsep jangka panjang, mungkin kita masih ingat, dulu pada masa pemerintahan presiden Soeharto, buku yang kita pelajari hari ini masih bisa kita wariskan kepada adik kelas dan tidak pernah kita dengar buku-buku dengan muatan konten negatif/porno. Selain itu kesejahteraan guru sudah seharusnya diprioritaskan, jika kita perhatikan gaji guru honorer, banyak yang berada dibawah gaji buruh atau pekerja kasar lainnya. Pengalaman ini pernah saya alami dan rasakan. Ketika seorang guru honorer didaerah perbatasan lebih memilih meninggalkan sekolah yang sangat membutuhkan tenanganya demi bekerja diperkebunan sawit. Alasanya sangat sederhana, gaji dikebun sawit lebih besar dan lebih menjamin hidupnya. Tugas dan beban guru juga sangat berat, secara moril sebagai ujung tombak, guru bertanggung jawab terhadap mutu pendidikan. Banyak profesi lain yang kadang menganggap guru di Indonesia sangat sejahtera, dibantu dengan tunjang profesi dan mendapatan jatah libur yang lumayan banyak. Tetapi mereka tidak menyadari dan merasakan bagaimana beratnya perjuangan guru yang harus berkutat dengan tetek-bengek administrasi pendidikan, sehingga tak jarang karena beban admnistrasi yang begitu banyak guru melupakan kewajiban mendasar mereka yaitu belajar. Guru bukan tuhan yang maha mengetahui, guru hanyalah fasilitator untuk mentrasnsfer ilmu. Ada waktunya kemampuan guru harus diasah agar tidak mengalami ketertinggalan zaman. Perkembangan pengetahuan yang pesat harus diimbangi oleh seluruh guru Indonesia.
Selain itu perkembangan teknologi juga harus menjadi perhatian kita, generasi muda kita sangat rentan terhadap pengaruh negatif media sosial, setali tiga uang, konten-konten negatif yang begitu mudah diakses juga didukung dengan tayangan-tayangan yang tidak mendidik dari layar kaca kita. Sudah sepatutnya kita mengkoreksi ini untuk menekan penyalahgunaan teknologi. Pengawasan orang tua sangat dibutuhkan hal ini. Orang tua tidak boleh lepas tangan terhadap pendidikan dan pengawasan anaknya, orang tua dan guru harus saling melengkapi, bekerjasama agar anak kita tidak menjadi korban zaman now.
Kemudian kita juga harus sadar menilai kesuksesan sebuah pembelajaran bukan dari sekedar angka atau kuantitas.. Jika kita selalu berorientasi pada angka, seperti berapa angka kelulusan, nilai tertinggi yang dicapai dan segala macamnya, maka akan dengan mudah terjadi manipulatif atau kebohongan. Tapi cobalah nilai pendidikan dari karakter yang dilahirkan. Maka sekolah akan berlomba-lomba untuk melahirkan generasi yang berkarakter dan kreatif. Selain itu jangan bebani anak didik kita dengan jam belajar yang lama, lama atau sebentar tidak menjamin kualitas. Finlandia telah membuktikan bahwa pola pendidikan dengan waktu singkat bisa menempatkan mereka diantara negara dengan kualitas pendidikan yang baik.
Terakhir kita berharap melalui moment pendidikan nasional tahun ini, pendidikan dinegara kita menjadi lebih baik sesuai dengan moto hari pendidikan nasional kita “Menguatkan Pendidikan Memajukan Kebudayaan”
0 komentar:
Posting Komentar